Selasa, 11 Juli 2017

busana adat jawa dan maknanya

BUSANA ADAT JAWA DAN MAKNANYA
Surjan bagi orang jawa merupakan salah satu model pakaian adat yang penuh filosofis kehidupan.Surjan merupakan busana adat Jawa atau orang bilang busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi,kaya akan suatu ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi jawa(kejawen).

Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktifitas sehari-hari,baik dalam hubungannya dengan sesama manusia,dengan diri sendiri,maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta segala sesuatu di muka bumi ini. Dan khusus untuk pakaian adat pria ini kurang lebih terdiri dari blangkon,surjan/beskap,keris kain jarik (kain samping) , sabuk sindur dan canela/camila/selop.

Pengguna pakaian adat yang sekarang ini sudah jarang dilakukan atau hanya sekedar dipakai pada saat ada hajatan saja,berakibat pengetahuan tentang tata cara pemakaian pakaian adat menjadi semakin minim.Terlebih lagi kebanyakan dari masyarakat sudah jarang yang memiliki sendiri seperangkat pakaian adat.






SURJAN

Surjan/sur.jan/Jw. Adalah baju laki-laki khas jawa berkerah tegak,berlengan panjang,terbuat dari bahan lurik atau cita berkembang. Kata surjan merupakan bentuk tembung garpa (gabungan dua kata atau lebih,diringkas menjadi dua suku kata saja) yaitu dari kata suraksa-janma (menjadi manusia). Surjan menurut salah satu makalah yang  diterbitkan oleh Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta berasal dari istilah siro + jan yang berarti pelita atau yang memberi terang.
Dikatakan  (pakaian) surjan berasal dari zaman Mataram islam awal. Pakaian adat pria ini merupakan pakaian adat model yogyakarta walaupun konon katanya surjan merupakan pakaian khas dari kerajaan Mataram sebelum terpecah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta. Surjan awalnya diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang diinspirasi oleh model pakaian pada waktu itu dan selanjutnya digunakan oleh mataram. Pakaian surjan dapat disebut pakaian "takwa". karena itu di dalam baju surjan terkandung makna-makna filosofi,diantaranya:bagian leher baju surjan memiliki kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang ke semuanya menggambarkan rukun iman. Rukun iman tersebut adalah iman kepada Allah,iman kepada malaikat,iman kepada kitab-kitab,iman kepada utusan Allah,iman kepada hari kiamat,iman kepada takdir. Selain itu surjan juga memiliki dua buah kancing di bagian dada sebelah kiri dan kanan. Hal itu adalah simbol dua kalimat syahadat yang berbunyi,Ashaduallaillahaillalah dan Waashaduanna Muhammad  Rasulullah.
Disamping itu surjan memiliki tiga buah kancing di dalam (bagian dada dekat perut) yang letaknya tertutup (tidak kelihatan) dari luar yang menggambarkan tiga macam nafsu manusia yang harus diredam/dikendalikan/ditutup.nafsu-nafsu tersebut adalah nafsu bahimah (hewani) ,nafsu lauwamah (nafsu makan dan minum) nafsu syaitoniah (nafsu setan). (K.R.T Jatiningrat,2008,Raukan Takwa lan Pranakan ing Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat).
Jadi jenis pakaian atau baju ini bukan sekedar untuk fashion dan menutupi anggota tubuh supaya tidak kedinginan dan kepanasan serta untuk kepantasan saj,namun di dalamnya memang terkandung makna filosofi yang dalam.
Surjan sendiri terdapat dua jenis yaitu surjan lurik dan surjan ontrokusuma,dikatakan surjan lurik karena bermotif garis-garis,sedangkan surjan ontrokusumak karena bermotif bunga (kusuma). Jenis dan motif kain yang digunakan untuk membuat surjan tersebut bukan kain polos ataupun kain lurik buatan dalam negri saja,namun untuk surjan ontrokusuma terbuat dari kain sutera bermotif hiasan berbagai macam bunga.
Surjan ontrokusuma hanya khusus sebagai pakaian para bangsawan Mataram,sedangkan pakaian seragam bagi aparat kerajaan hingga prajurit,surjan seragamnya menggunakan bahan kain lurik dalam negri,dengan motif lurik (garis-garis lurus). Untuk membedakan jenjang jabatan /kedudukan pemakainya,ditandai atau dibedakan dari besar-kecilnya motif lurik,warna dasar kain lurik dan warna-warni luriknya. Semakin besar luriknya berarti semakin tinggi jabatanny,atau semakin kecil luriknya berarti semakin rendah jabatannya.
Demikian pula warna dasar kain dan warna-warni luriknya akan menunjukkan pangkat (derajat/martabat) sesuai gelar kebangsawanannya.
Pemakaian surjan ini di kombinasi dengan tutup kepala atau blangkon dengan "mondholan" di belakangnya.Dahulu pada jaman kerajaan mondholan ini difungsikan untuk menyimpan rambut pria yang panjang biar kelihatan rapi.



BESKAP

Beskap merupakan pakaian adat gaya Surakarta,bentuknya seperti jas didesain sendiri oleh orang belanda yang berasal dari kata beschaafd yang berarti civilized atau kebudayaan. Warna yang lazim dari beskap biasanya hitam,walaupun warna lain seperti putih atau coklat juga tidak jarang digunakan. Selain beskap,ada lagi pakaian adat pria gaya Surakarta ini yaitu atela. Perbedaan antara keduanya yang mudah dilihat dari pemasangan kancing baju. Pada beskap,kancing baju terpasang di kanan dan kiri,sementara pada atela,kancing baju terpasang ditengah dari kerah leher ke bawah.
Beskap adalah sejenis kemeja pria resmi dalam tradisi Jawa Mataraman untuk dikenakan pada acara-acara resmi atau penting. Busana atasan ini diperkenalkan pada akhir abad ke-18 oleh kalangan kerajaan-kerajaan di wilayah pengaruh budayanya.
Beskap berbentuk kemeja tebal,tidak berkerah lipat,biasanya berwarna gelap,namun hampir selalu polos. Bagia depan berbentuk tidak simetris,dengan polakancing menyamping (tidak tegak lurus). Tergantung jenisnya,terdapat perbedaan potongan pada bagian belakang ,untuk mengantisipasi keberadaan keris. Beskap selalu di kombinasi dengan jarik (kain panjang yang di bebatkan untuk menutupi kaki).
Beskap memiliki beberapa variasi yang berbeda potongannya. Berikut adalah jenis-jenis beskap: beskap gaya solo,beskap gaya jogja,beskap landung,dan beskap gaya kulon.

CARA MEMAKAI SURJAN ATAU BESKAP
Seperti telah disampaikan diatas bahwa surjan atau beskap merupakan salah satu busana pria adat jawa yang bersumber dari keraton mataram. Cara memakainya harus dilakukan dengan tatacara yang memiliki kaidah etika dan estitika tertentu.Susunan Pakubuwono IV,Raja Surakarta telah mengingatkan kita dalam berpakaian,yaitu: Nyandhang panganggo iku dadekna sarana hambangun manungso njobo njero,marmane pantesan panganggonira,trapna traping panganggon,cundhukanamarang kahananing badanira,wujud lan wernanejumbuhna kalawan dedeg pidegso miwah pakulitaniro.
(berpakaian seharusnya dijadikan sarana untuk membangun kepribadianmanusia lahir dan bathin). Maksud berpantaslah dalam berpakaian . Berpakaianlah sesuai tempat dan keadaan,cocokkan antara badan dengan pakaian yang dikenakan,antara situasi,warna dan model/corak pakaian,tinggi badan,berat badan dan warna kulit).

PERLENGKAPAN BUSANA SURJAN ATAU BESKAP
-Nyamping/sinjang
-Stage-Sabuk
-Epek lengkap timang dan lerep (anak timang)
-Keris/duwung
-Selop/canela
-Blangkon/udheng/mid

KAIN JARIK

Jarik adalah kain panjang berwarna latar hitam dengan corak batik warna coklat dengan motif batik yang beraneka ragam. Kain sebagai Khasanah Batik Tradisional Indonesia seringkali disebut juga jarit. Pada masa lalu nyamping atau jarik yang digunakan biasanya berupa batik tulis,tetapi untuk saat ini rupanya tidak jarang pula dipergunakan batik cap.
Jarik yang bercorak batik mempunyai maksud bahwa jarik batik adalah kostum yang dipakai para ksatria dalam tradisi budaya Jawa (pakaian kejawen). Dengan memakai kostum berupa jarik ini diharapkan para pemain mempunyai jiwa ksatria dan berwibawa.


MEMAKAI SINJANG / NYAMPING
Nyamping atau sinjang sebelum dikenakan haruslah diwiru terlebih dahulu. Untuk nyamping busana pria,lebar wiru berukuran 3 jari tangan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengenakan nyamping adalah motif batik pada kain nyamping tersebut. Jika nyamping memiliki motif garuda,posisi kepala burung garuda haruslah berada diatas. Ada juga motif yang memakai simbol/bentuk seperti candi atau rumah,maka posisi atap haruslah berada diatas. Saat mengenakan nyamping,posisi wiru berasa ditengah tubuh memanjangke bawah. Tangan kanan memegang wiru dan tangan kiri memegang ujung kain satunya (biasa disebut pengasih). Pengasih ini dililitkan ke kanan hingga belakang paha kanan. Kemudian ujung wiru dililitkan ke arah kiri hingga pas ditengah tubuh.Usahakan bagia bawah tingginya sama dan cukup menutupi bagian kemiri kaki (bagian belakang kaki yang menonjol). Setelah dirasa cukup sesuai maka nyamping harus diikat oleh stagen.

  
MEMAKAI STAGEN
Stagen dililitkan dari arah kiri ke kanan mulai dari bawah melingkar ke arah atas. Jika stagen milik anda terlalu panjang ,anda dapat meneruskan melilitkan stagen kembali ke arah bawah. Jika sudah cukup ,ujung stagen ditekuk dan diselipkan pada bagian bawah lilitan stagen untuk mengunci lilitan tersebut. Selanjutnya untuk menutupi stagen ,kenakanlah sabuk


MEMAKAI SABUK
Cara memakai sabuk mirip dengan cara mengenakan stagen yaitu dililitkan berulang kali pada bagian bawah dada hinnga ke pinggang. Hanya saja sabuk dililitkan dari arah kanan ke kiri mulai dari atas ke arah bawah. Yang perlu diperhatikan pada pemakaian sabuk adalah jarak sap (garis atas yang satu dengan berikutnya kurang lebih 2 jari tangan. Ujung dari sabuk harus berakhir pada bagian kiri depan dan dapat dikunci dengan peniti).
  

  

MEMAKAI EPEK
  
Bentuk epek mirip dengan ikat pinggang. Epek memiliki bagian pengunci yang disebut timang dan bagian lerep (anak timang). Cara mengenakan epek yaitu timang berada pada posisi tengah lurus dengan wiru nyamping. Sementara lerep pada posisi sebelah kiri jika memiliki epek yang yang panjang maka bagian ujung dapat dilipat dan dimasukkan ke bagian lerep . Epek harus terpasang pada lilitan sabuk bagian bawah,kira-kira 2 jari dari garis bawah sabuk.
Warna sabuk dan epek ada beberapa macam sesuai dengan keperluan,contohnya:
-sabuk berwarna ungu dengan epek berwarna hijau artinya Wredha Ginugah yang dapat membangun suasana tenteram ,
-sabuk berwarna hijau atau biru dengan epek berwarna merah artinya Satriya Mangsah yang dapat membangun jiwa terampil dan berwibawa.
-Sabuk berwarna sindur (merah bercampur putih) digunakan pada saat hajatan penganten.warna ini dipakai bagi yangmemiliki hajatan (hamengku damel). Sementara untuk besan tidak ada aturan yang pasti .hanya saja pada saat jaman penjajahan jepang ,pernah ada paguyuban yang menentukan warna sabuk pandhan binethot (warna hijau dan kuning) bagi besan.

MEMAKAI KERIS / DUWUNG
  Keris atau duwung dikenakan pada bagia belakang busana. Keris diselipkan pada sabuk,tepatnya pada sap ketiga dari bagian bawah sabuk.
Untuk jenis keris ada banyak sekali macamnya,hanya saja yang banyak dikenal oleh awam jenis ladrang dan gayaman.Dhuwung ladrang adalah keris resmi yang digunakan dalam upacara ataupun pahargyaan (upacara oenganten). Sementara jenis gayaman digunakan sehari-hari oleh prajurit keraton.

MEMAKAI SELOP/CANELA
Selop dikenakan sebagai alas kaki.Yang perlu diperhatikan pada pemakaian selop adalah ukuran dari selop itu. Jangan mengenakan selop yang lebih besar dari ukuran kaki tapi pilihlah selop yang lebih kecil. Ini bertujuan menghindari agar langkah kita tidak terbelit pada kain nyamping.

MEMAKAI BLANGKON/UDENG/MID

Pada bagian depan blangkon terdapat segitiga.Ujung segitiga tersebut harus berada ditengah-tengah kening. Blangkon jangan dikenakan terlalu mendongak ataupun menunduk.

Ada satu hal yang perlu diingat saat mengenakan busana adat,yaitu bahwa sepintas orang dapat mengenali kepribadian seseorang dari busananya baik warnanya maupun jenis busananya,cara memakainya dan bertingkah laku saat mengenakannya.